Aku berharap takkan terjadi lagi
Cerita cinta antara kau dan aku
Luka hati yang membekas di hati ini
Menyisakan luka goresan hati
Reff:
Tuhan dengarkan doa dari jiwa yang lemah
Dari dalam lubuk hatiku
Tuhan berikan kuat
Pada hati yang telah tersakiti
Berikan maaf pada dia yang telah sakiti
NB :
lagu pertama yang partiturnya belum selesai, liriknya gaje, dan nadanya juga aneh. Dibuat iseng, karena sesuatu hal yang udah sangat nyesek di hati sehingga menciptakan satu karya ini.
Selasa, 01 Oktober 2013
Jumat, 20 September 2013
Atau Mungkin Sudah Biasa?
Deru
suara metromini,
masih
berdengung dalam ruang tingkap di dalam telingaku
Aku
dan beberapa penumpang
duduk
dengan arah pikiran masing-masing
Pucat,
keringat, penat
Kami
semua tercengang memandang kondektur metromini
Sangat
pintar bicaranya,
Bicara
logat preman terminal
Tubuhnya
besar, bahkan lebih lebar dari tubuhku
Tidak
tinggi, sebahuku...
Kaos
hitam yang dikenakan, semakin menutupi keasliannya
Usianya
tujuh tahun lebih muda dariku
Tunggu!
Apa yang dikerjakan anak itu di waktu
belajar?
Bertransaksi,
mentujuh kali lipatkan tarif satu jalan pada malam itu
Sangat
menyebalkan, seperti ulah preman pasar yang semena-mena
Aku
bergumam sendiri,
Siapa
yang mengajarkannya?
Apakah
gurunya di sekolah?
Atau
ayahnya, kawannya? Atau siapa?
Guru
tidak akan mendidik siswanya menjadi preman!
menurut
yang pernah kudengar seperti itu
Ayah?
Ah masa, seorang ayah ... Tidak mungkin!
Kawannya?
Mungkin saja iya, tapi kawannya itu, siapa pula yang mengajarkan?
Kubuang
pelan, semua pemikiran buruk itu
Kubiarkan
prasangkaku terhempas bersama angin malam
dari
jendela yang banyak butir-butir bening
Wanita
diseberangku mengajaknya bicara,
Kupasang
kuping, meskipun tak terdengar jelas
Benar..
dia tidak bersekolah, bekerja bersama ayahnya
Ketika
anak lain menikmati gembar-gembor dana subsidi pendidikan
Dia
asyik berkutat dengan dolanannya
yang
lebih mirp dolanan orang limabelas
tahun lebih tua darinya
semuda
itu? Mencari uang? Lilitan ekonomi
aku
tak menjamin, apa aku sudah bisa?
Sekadar
mendapatkan ongkos jasa untuk metromini malam itu pun, belum tentu ku bisa mencarinya
DENGAN KERINGATKU SENDIRI!
Hei!
Apa hanya dia satu-satunya?
Apa
ada yag lain?
Atau
masih banyak?
Jikalau
masih banyak,
Apa
anak-anak itu tidak lelah?
Bagi
komunitas mereka lelah, MUNGKIN SUDAH BIASA?
Inikah
salah satu pertanda?
Semakin bobroknya sistem di
negeri ini?
Sebuah Kisah di Tengah Penantian Mata Bola
Bertahan
di tempat itu menunggu datangnya si mata bola
Sepasang
mata yang sorotnya tajam, terlain di hari petang
Sepasang
mata yang sorotnya menembus rintik-rintik air kehidupan
Sepasang
mata yang sorotnya harus nampak pula pada siang hari
Sepasang
mata yang terkadang nakal tak mau mendelik ketika siang datang
“Mba...
lenggah mriki... ngaub...”
terdengar
suara lirih dari balik gerobak bertuliskan
MARTABAK
MANIS, MARTABAK TELOR
Nafas
terhempas setelah menjatuhkan
tubuh
ringkih ini pada bangku kayu kumal
Gelap,
basah, dingin
Kupandang
langit-langit ruko diatasku
Terlihat
indah...
Air
hujan jatuh berentet, mirip serbuk bunga dendalion
Menari
dibawah kilauan lampu penerangan jalan
Tercium
bau yang menggoyangkan dinding-dinding lambung
menimbulkan
bunyi, pertanda dia butuh asupan
Jlantah
martabak telur, aromanya menggiurkan...
Seorang
tua yang ketika itu berdiri di tempat itu,
Menimbulkan
simpatik tersendiri bagi orang yang melintas
“Kondur
pundi Mba?” muncul pertanyaan
“Bocari,
Pak.”
Jawaban
yang sama,
untuk
pertanyaan yang sama,
dari
orang yang sama pula
Mungkin
beliau lalai, dengan euforia itu
Tapi
satu hal yang aku soroti, beliau tidak akan lupa untuk tunaikan kewajiban
Pernah
sesekali kulihat, masih berada di sudut yang sama
Ketika
tak ada satupun pembeli yang melik
dengan dagangannya
Taukah
kau, apa pegangan beliau?
Sebuah
buku, wara kertasnya yang kecokelatan menandakan itu buku tua
Kutengarai
itu adalah kitab buta, tanpa swara
Mimiknya
yang penuh kepasrahan
Semakin
membuatku tertegun
Ku
dera, dalam hati beliau berkata
“Yang
penting rezekine halal, sepiraha ya ora
papa..”
Bertahan
hidup memang susah, sulit, dan rumit
Akan
lebih rumit ketika kita hidup tak dapat apa-apa
Dunia
belum seberapa, akhiratlah tujuan hidup
Aku
semakin merasa,
“Tuhan
begitu jauh aku denganmu, ditengah semua kerumitan ini”
“Pemalang...
Pemalang...”
Aku
tersadar dari simphoni khayalku
Si
mata bola telah datang,
siap
untuk menghantar penumpang-penumpang malam
Langganan:
Postingan (Atom)