Bertahan
di tempat itu menunggu datangnya si mata bola
Sepasang
mata yang sorotnya tajam, terlain di hari petang
Sepasang
mata yang sorotnya menembus rintik-rintik air kehidupan
Sepasang
mata yang sorotnya harus nampak pula pada siang hari
Sepasang
mata yang terkadang nakal tak mau mendelik ketika siang datang
“Mba...
lenggah mriki... ngaub...”
terdengar
suara lirih dari balik gerobak bertuliskan
MARTABAK
MANIS, MARTABAK TELOR
Nafas
terhempas setelah menjatuhkan
tubuh
ringkih ini pada bangku kayu kumal
Gelap,
basah, dingin
Kupandang
langit-langit ruko diatasku
Terlihat
indah...
Air
hujan jatuh berentet, mirip serbuk bunga dendalion
Menari
dibawah kilauan lampu penerangan jalan
Tercium
bau yang menggoyangkan dinding-dinding lambung
menimbulkan
bunyi, pertanda dia butuh asupan
Jlantah
martabak telur, aromanya menggiurkan...
Seorang
tua yang ketika itu berdiri di tempat itu,
Menimbulkan
simpatik tersendiri bagi orang yang melintas
“Kondur
pundi Mba?” muncul pertanyaan
“Bocari,
Pak.”
Jawaban
yang sama,
untuk
pertanyaan yang sama,
dari
orang yang sama pula
Mungkin
beliau lalai, dengan euforia itu
Tapi
satu hal yang aku soroti, beliau tidak akan lupa untuk tunaikan kewajiban
Pernah
sesekali kulihat, masih berada di sudut yang sama
Ketika
tak ada satupun pembeli yang melik
dengan dagangannya
Taukah
kau, apa pegangan beliau?
Sebuah
buku, wara kertasnya yang kecokelatan menandakan itu buku tua
Kutengarai
itu adalah kitab buta, tanpa swara
Mimiknya
yang penuh kepasrahan
Semakin
membuatku tertegun
Ku
dera, dalam hati beliau berkata
“Yang
penting rezekine halal, sepiraha ya ora
papa..”
Bertahan
hidup memang susah, sulit, dan rumit
Akan
lebih rumit ketika kita hidup tak dapat apa-apa
Dunia
belum seberapa, akhiratlah tujuan hidup
Aku
semakin merasa,
“Tuhan
begitu jauh aku denganmu, ditengah semua kerumitan ini”
“Pemalang...
Pemalang...”
Aku
tersadar dari simphoni khayalku
Si
mata bola telah datang,
siap
untuk menghantar penumpang-penumpang malam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar